PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH
Dalam tulisan ini berisi tentang :
1.
Pengertian
Pembelajaran Berbasis Masalah
2.
Ciri-Ciri
Pembelajaran Berbasis Masalah
3.
Tujuan
Pembelajaran dan Hasil Belajar
4.
Tahapan
Pembelajaran Berbasis Masalah
5.
Lingkungan
Belajar dan Sistem Manajemen
1.
Pengertian
Pembelajaran Berbasis Masalah
Pembelajaran berbasis masalah (Problem-Based Learning)
adalah suatu pandekatan pembelajaran yang menggunakan masalah dunia nyata
sebagai suatu konteks bagi siswa untuk belajar tentang cara berpikir kritis dan
keterampilan pemecahan masalah, serta untuk memperoleh pengetahuan dan konsep
yang esensial dari materi pelajaran.
Pembelajaran masalah digunakan untuk merangsang berpikir
tingkat tinggi dalam situasi berorientasi masalah, termasuk di dalamnya belajar
bagaimana belajar. Menurut Ibrahim dan Nur (2000: 2)), “Pembelajaran berbasis
masalah dikenal dengan nama lain seperti Project-Based Teaching (Pembelajaran
Proyek), Experienced-Based Education (Pendidikan berdasarkan pengalaman),
Authentic Learning (Pembelajaran Autentik), dan Achoered Instruction
(Pembelajaran berakar pada kehidupan nyata)”.
Peran guru dalam pembelajaran berbasis masalah adalah
menyajikan masalah, mengajukan pertanyaan, dan memfasilitasi penyelidikan dan
dialog. Pembelajaran berbasis masalah tidak dapat dilaksanakan tanpa guru
mengembangkan lingkungan kelas yang memungkinkan terjadinya pertukaran ide
secara terbuka. Secara garis besar pembelajaran berbasis masalah terdiri dari
menyajikan kepada siswa situasi masalah yang autentik dan bermakna yang dapat
memberikan kemudahan kepada mereka untuk melakukan penyelidikan dan ikuiri.
2. Ciri-Ciri Pembelajaran Berbasis
Masalah
Berbagai pengembangan pembelajaran berbasis masalah telah
mencoba menunjukkan cirri-ciri pembelajaran berbasis masalah sebagai berikut.
a. Pengajuan pertanyaan atau masalah.
Pembelajaran berbasis masalah bukan hanya mengorganisasikan
prinsip-prinsip atau keterampilan akademik tertentu, pembelajaran berdasarkan
masalah mengorganisasikan pembelajaran di sekitar pertanyaan dan masalah yang
kedua-duanya secara sosial penting dan secara pribadi bermakna untuk siswa.
Mereka mengajukan situasi kehidipan nyata yang autentik, menghindari jawaban
sederhana, dan memungkinkan adanya berbagai macam solusi itu.
b. Berfokus pada keterkaitan antar
disiplin.
Meskipun pembelajaran berbasis masalah mungkin berpusat pada
mata pelajaran tertentu (IPA, Matematika, Ilmu Sosial), masalah yang akan
diselidiki telah dipilih yang benar-benar nyata agar dalam pemecahannya siswa meninjau
masalah itu dari banyak mata pelajaran.
c. Penyelidikan autentik.
Pembelajaran berbasis masalah mengharuskan siswa melakukan
penyelidikan autentik untuk mencari pemecahan masalah nyata. Mereka harus
menganalisasi dan mendefinisikan masalah, mengembankan hipotesis dan membuat
ramalan, mengumpulkan dan menganalisis informasi, melakukan eksperimen (jika
diperlukan), membuat iferensi, dan merumuskan kesimpulan. Sudah barang tentu,
metode penyelidikan yang digunakan bergantung pada masalah yang sesdang
dipelajari.
d. Menghasilkan produk/karya dan
memamerkannya.
Pembelajaran berbasis masalah menuntut siswa untuk
menghasilkan produk tertentu dalam bentuk karya nyata atau artefak dan peragaan
yang menjelaskan atau mewakili bentuk penyelesaian masalah yang mereka temukan.
Produk itu dapat berupa transkrip debat, laporan, model fisik, video atau
program computer (Ibrahim & Nur, 2000:5-7).
Pembelajaran berbasis masalah dicirikan oleh siswa bekerja
sama satu sama lain (paling sering secara berpasangan atau dalam kelompok
kecil). Bekerja sama memberikan motivasi untuk secara berkelanjutan terlibat
dalam tugas-tugas kompleks dan memperbanyak peluang untuk berbagi inkuiri dan
dialog dan untuk mengembangkan keterampilan sosial dan keterampilan berpikir.
3. Tujuan Pembelajaran dan Hasil
Belajar
Pembelajaran berbasis masalah dirancang untuk membantu guru
memberikan informasi sebanyak-banyaknya kepada siswa. Pembelajaran berbasis
masalah dikembangkan terutama untuk membantu siswa mengembangkan kemampuan
berpikir, pemecahan masalah, dan keterampilan intelektual, belajar tentang
berbagai peran orang dewasa melalui pelibatan mereka dalam pengalaman nyata
atau simulasi, dan menjadikan pembelajar yang otonom dan mandiri. Uraian rinci
terhdap ketiga tujuan itu dijelaskan lebih jauh oleh Ibrahim dan Nur
(2000:7-12) berikut ini.
a. Keteramplan Berpikir dan
Keterampilan Pemecahan Masalah
- pernyataan simbolik itu untuk menemuan prinsip-prinsip esensial tentang objek dan kejadian itu
- Berbagai macam ide telah digunakan untuk menggambarkan cara seseorang berpikir. Tetapi, apakah sebenarnya yang terlibat dalam proses berpikir? Apakah keterampilan berpikir itu dan terutama apakah keterampilan berpikir itu?
- Berpikir adalah proses yang melibatkan operasi mental seperti induksi, deduksi, klasifikasi, dan penalar
- Berpikir adalah proses secara simbolik menyatakan (melalui bahasa) objek nyata dan kejadian-kejadian dan penggunaan
- untuk menemukan prinsip-prinsip esensial tentang objek dan kejadian itu. Pernyataan simbolik (abstrak) seperti itu biasanya berbeda dengan operasi mental yang didasarkan pada tingkat konkret dari fakta dan kasus khusus.
- Berpikir adalah kemampuan untuk menganalisis, mengkritik, dan mencapai kesimpulan berdasar pada inferensi atau pertimbangan yang seksama.
Tentang berpikir tingkat tinggi, Resnick (1987) memberikan
penjelasan sebagai berikut:
- Berpikir tingkat tinggi adalah nonalgoritmik, yaitu alur tindakan yang tidak sepenuhnya dapat diterapan sebelumnya.
- Berpikir tingkat tinggi cenderung kompleks. Keseluruhan alurnya tidak dapat diamati dari satu sudut pandang. Berpikir tingkat tinggi sering kali menghasilkan banyak solusi, masing-masing dengan keuntungan dan kerugian.
- Berpikir tingkat tinggi melibatkan pertimbangan dan interpretasi.
- Berpikir tingkat tinggi melibatkan ketidakpastian. Segala sesuatu yang berhubungan dengan tugas tidak selamanya diketahui.
- Berpikir tingkat tinggi melibatkan banyak penerapan banya kriteria, yang kadang-kadang bertentangan satu sama lain.
- Berpikir tingkat tinggi melibatkan banyak pengaturan diri tentang proses berpikir. Kita tidak mengakui sebagai berpikir tingkat tinggi pada seseorang jika ada orang lain membantunya pada setiap tahap.
- Berpikir tingkat tinggi melibatkan pencarian makna, menemukan struktur pada keadaan yang tampaknya tidak teratur.
- Berpikir tingkat tinggi adalah kerja keras. Ada pengerahan kerja mental besar-besaran saat melakukan berbagai jenis elaborasi dan pertimbangan yang dibutuhkan.
Perlu dicatat bahwa Resnick menggunakan kata-kata dan
ungkapan seperti pertimbangan, pengaturan diri, pencarian makna, dan
ketidakpastian. Hal ini berarti bahwa proses berpikir dan keterampilan yang
perlu diaktifkan sangatlah kompleks. Resnick juga menekankan pentingnya konteks
atau keterkaitan pada saat berpikir tentan berpikir. Meskipun proses memiliki
beberapa kesamaan antarsituasi, proses itu juga bervarisai bergantung pada apa
yang dipikirkan seseorang. Sebagai contoh, proses yang kita gunakan untuk
memikirkan matematika berbeda dengan proses yang kita gunakan untuk memikirkan
puisi. Proses berpikir yang digunakan untuk memikirkan ide abstrak berbeda
dengan yang digunakan untuk memikirkan situasi kehidupan nyata. Karena hakikat
kekomplekan dan konteks dari keterampilan berpikir tingkat tinggi, maka
keterampilan itu tidak dapat diajarkan menggunakan pendekatan yang dirancang
untuk mengajarkan ide dan keterampilan yang lebih konkret. Keterampilan proses
dan berpikir tingkat tinggi bagaimanapun juga jelas dapat diajarkan, dan kebanyakan
program dan kurikulum dikembangkan untuk tujuan ini sangat mendasarkan diri
pada pendekatan yang sama dengan pembelajaran berbasis masalah.
a. Pemodelan Peran Orang Dewasa
Resnick juga memberikan rasional tentang bagaimana pembelajaran
berbasis masalah membantu siswa untuk berkinerja dalam situasi kehidupan nyata
dan belajar tentang pentingnya peran orang dewasa. Dalam banyak hal pembelajaran
berbasis masalah bersesuaian dengan aktivitas mental di luar sekolah
sebagaimana yang diperankan oleh orang dewasa.
1.
Pembelajaran
berbasis masalah memiliki unsur-unsur belajar magang. Hal tersebut mendorong
pengamatan dan dialog dengan orang lain, sehingga secara bertahap siswa dapat
memahami peran penting dari aktivitas mental dan belajar yang terjadi di luar
sekolah.
2.
Pembelajaran
berbasis masalah melibatkan siswa dalam penyelidikan pilihan sendiri, yang
memungkinkan siswa menginterpretasikan dan menjelaskan fenomena dunia nyata dan
membangun pemahamannya tentang fenomena tersebut.
b. Pembelajaran yang Otonom dan Mandiri
Pembelajaran berbasis masalah berusaha membantu siswa
menjadi pembelajar yang mandiri dan otonom. Bimbingan guru yang berulang-ulang
mendorong dan mengarahkan siswa untuk mengajukan pertanyaan, mencari
penyelesaian terhadap masalah nyata oleh mereka sendiri. Dengan begitu, siswa
belajar menyelesaikan tugas-tugas mereka secara mandiri dalam hidupnya.
4. Tahapan Pembelajaran Berbasis
Masalah
Pembelajaran berbasis masalah biasanya terdiri dari lima
tahapan utama yang dimulai dengan guru memperkenalkan siswa dengan suatu
situasi masalah dan diakhiri dengan penyajian dan analisis hasil kerja siswa.
Tahapan Tingkah Laku Guru
Tahap 1
Orientasi siswa kepada masalah
Guru menjelaskan tujuan pembelajaran,
menjelaskan logistic yang dibutuhkan, memotivasi siswa agar terlibat pada
aktivitas pemecahan masalah yang dipilihnya
Tahap 2
Mengorganisasi siswa untuk belajar
Guru membantu siswa mendefinisikan dan
mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut
Tahap 3
Membimbing penyelidikan individual dan
kelompok
Guru mendorong siswa untuk mengumpulkan
informsi yang sesuai, melaksanakan eksperimen, untuk mendapatkan penyelasan dan
pemecahan masalahnya.
Tahap 4
Mengembangkan dan menyajikan hasil
karya
Guru membantu siwa merekncanakan dan
menyiapkan karyayang sesuai seperti laporan, video, dan model serta membantu
mereka berbagai tugas dengan temannya.
Tahap 5
Menganalisa dan mengevaluasi proses
pemecahan maslah
Guru membantu siswa melakukan refleksi
atau evaluasi terhadap penyelidikan mereka dan proses-proses yang mereka
gunakan.
5. Lingkungan Belajar dan Sistem
Manajemen
Tidak seperti lingkungan belajar yang terstruktur secara
ketat yang dibutuhkan dalam pembelajaran langsung atau penggunaan yang
hati-hati kelompok kecil dalam pembelajaran kooperatif, lingkungan belajar dan
system manajemen dalam pembelajaran berbasis masalah dicirikan oleh sifatnya
yang terbuka, ada proses demokrasi, dan peranan siswa yang aktif. Meskipun guru
dan siswa melakukan tahapan pembelajaran yang terstruktur dan dapat diprediksi
dalam pembelajaran berbasis masalah, norma di sekitar pelajaran adalah norma
inkuiri terbuka dan bebas mengemukakan pendapat. Lingkungan belajar menekankan
peranan sentral siswa, bukan guru yang ditekankan.

.jpg)
.jpg)
.jpg)